BREBES,Sirampok Jawa Tengah,GarudaXpose.com-Catatan kelam tentang kerentanan alam kembali terukir dalam memori kolektif masyarakat Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Pada hari Rabu kelabu, 28 Januari 2026, sebuah bencana tanah bergerak dahsyat menghantam secara simultan tiga dukuh vital: Bojongsari, Kapur, dan Makam. Peristiwa ini bukan sekadar insiden alam yang datang tiba-tiba, melainkan klimaks dari serangkaian kondisi lingkungan yang memburuk, diawali dengan akumulasi curah hujan ekstrem berintensitas sangat tinggi yang mengguyur tanpa henti sepanjang siang dan malam sebelumnya. Sungai Keruh yang biasanya menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi ancaman mematikan, meluap ganas dengan membawa serta material erosi dalam jumlah masif—mulai dari batang pohon berukuran besar yang dicabut dari akarnya, bebatuan gunung yang terbawa arus, hingga lumpur pekat yang menyelimuti segalanya. Luapan ini menyebabkan abrasi parah dan memanjang di sepanjang tebing pemukiman, sebuah daerah yang memang telah lama dicatat sebagai titik rawan erosi dan longsor setiap kali musim penghujan tiba dengan intensitas air yang mengancam.
Dampak yang ditimbulkan oleh fenomena geologis yang destruktif ini sungguh melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Infrastruktur dasar yang menjadi tulang punggung aktivitas sehari-hari dan perekonomian Desa Sridadi mengalami kerusakan parah, bahkan hampir menyeluruh di beberapa titik vital. Jalan-jalan utama yang menghubungkan antar dukuh, serta jembatan penghubung yang selama ini menjadi satu-satunya akses vital bagi aktivitas perekonomian dan sosial warga, kini terputus total. Kondisi ini secara efektif membuat lalu lintas kendaraan roda empat lumpuh, menciptakan kondisi isolasi parsial yang menyulitkan distribusi bantuan dan akses keluar-masuk bagi sebagian penduduk. Tak hanya itu, sektor pertanian yang menjadi denyut nadi perekonomian desa juga terpukul telak. Fasilitas irigasi hancur lebur, mengancam kelangsungan pasokan air ke lahan-lahan pertanian yang subur dan secara langsung berpotensi memutus mata pencarian ratusan kepala keluarga yang selama ini bergantung penuh pada sektor agraris. Kerugian ekonomi yang diperkirakan akan sangat besar ini membutuhkan waktu panjang, bahkan bertahun-tahun, untuk pemulihan menyeluruh.
Secara rinci, hasil pendataan awal yang terus diupdate oleh tim lapangan menunjukkan skala bencana yang mengerikan. Sebanyak 143 unit rumah penduduk telah mengalami kerusakan parah akibat pergeseran tanah. Dari jumlah tersebut, 15 rumah berada dalam kondisi rusak berat dan tak lagi layak huni, memaksa penghuninya untuk segera mengungsi demi keselamatan jiwa. Sementara itu, 128 rumah lainnya mengalami kerusakan sedang, namun tetap membutuhkan perbaikan serius dan evaluasi struktural agar aman untuk ditempati kembali. Tidak hanya hunian pribadi, fasilitas publik yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan juga tak luput dari amukan tanah. Satu bangunan masjid dan satu mushola yang merupakan sarana ibadah utama warga mengalami kerusakan sedang, membutuhkan renovasi mendalam. Demikian pula dengan Pusat Kegiatan Belajar PAUD Bina Husada dan Tempat Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), yang kini tak bisa lagi digunakan untuk aktivitas belajar-mengajar, mengganggu pendidikan anak-anak di usia emas mereka. Total 174 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 527 jiwa kini berada dalam kondisi darurat, menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian, kehilangan tempat tinggal, serta trauma mendalam akibat kengerian yang mereka alami.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Merespons krisis kemanusiaan ini, Kepala Desa Sridadi, Bapak Sudiryo, S.H.saat di hubungi oleh Awak media melalui Whatshap,Selasa malam 10 Februari 2026, menunjukkan kepemimpinan yang sigap dan tanggap di tengah keterbatasan. Ia segera menggerakkan seluruh potensi desa dan berkoordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait untuk melancarkan upaya penyelamatan yang terorganisir. Dengan gerak cepat yang patut diacungi jempol, Bapak Sudiryo,SH tim gabungan yang terdiri dari relawan lokal yang gigih, personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes yang berpengalaman, perwakilan Dinas Sosial yang responsif, serta berbagai Organisasi Masyarakat (Ormas) setempat, berhasil melakukan evakuasi darurat terhadap 15 keluarga yang rumahnya berada di zona paling membahayakan. Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan jiwa seluruh warga terdampak, memindahkan mereka dari area risiko tinggi menuju lokasi penampungan sementara yang lebih aman dan terjamin keamanannya.
Solidaritas dan kepedulian dari berbagai pihak pun mulai mengalir deras, membuktikan bahwa semangat gotong royong tak pernah padam di tengah musibah. Posko pengungsian yang didirikan telah mulai menerima dan mendistribusikan berbagai bentuk bantuan, mulai dari logistik dasar seperti makanan, air bersih, pakaian layak pakai, hingga kebutuhan dapur mandiri untuk para pengungsi. Ibu Bupati Paramita Widya Kusuma, menunjukkan empati dan kepeduliannya yang tinggi dengan mengirimkan bantuan langsung melalui Dinas Sosial dan BPBD Provinsi Jawa Tengah, meliputi pasokan logistik vital dan penyediaan tenda-tenda darurat yang sangat dibutuhkan untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal. Atas nama seluruh warga terdampak dan jajaran Pemerintah Desa, Bapak Sudiryo, S.H., dengan suara bergetar menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan mendalam atas perhatian dan dukungan yang tak ternilai harganya dari Ibu Bupati beserta seluruh jajarannya, serta kepada para donatur, lembaga swadaya masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat yang telah ikut serta meringankan beban penderitaan warga Desa Sridadi.
Memandang ke depan, Pemerintah Desa bersama seluruh pemangku kepentingan tengah menyusun rencana jangka panjang yang komprehensif untuk penanganan pascabencana. Prioritas utama adalah merelokasi warga terdampak ke lokasi yang tidak hanya aman dari ancaman tanah bergerak di masa mendatang, tetapi juga nyaman dan memiliki prospek untuk membangun kembali kehidupan. Rencana relokasi permanen untuk 143 unit rumah yang hancur masih dalam tahap menunggu hasil kajian geologi dan evaluasi komprehensif dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menentukan lokasi yang benar-benar stabil, layak huni, dan berkelanjutan. Proses ini diperkirakan akan memakan waktu, namun dilakukan dengan kehati-hatian demi masa depan warga. Sementara itu, upaya pemulihan infrastruktur dan perekonomian desa juga akan segera dimulai, beriringan dengan rehabilitasi sosial dan psikologis bagi para korban. Posko penanggulangan bencana berkomitmen untuk terus memperbarui data dan informasi terkini kepada publik, memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap langkah penanganan.
Pungkasnya, tragedi tanah bergerak di Sridadi ini adalah pengingat keras bagi kita semua tentang kerapuhan manusia di hadapan kekuatan alam, sekaligus menyoroti pentingnya mitigasi bencana yang berkelanjutan dan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah-wilayah rawan di seluruh Indonesia. Kolaborasi multi-pihak, mulai dari pemerintah, relawan, hingga masyarakat itu sendiri, adalah kunci untuk bangkit dari keterpurukan ini. Desa Sridadi mungkin terluka, namun semangat juang warganya untuk kembali menata kehidupan dan membangun masa depan yang lebih baik, patut diacungi jempol dan menjadi inspirasi bagi kita semua. Proses pemulihan akan panjang dan berliku, namun dengan gotong royong dan dukungan, Sridadi pasti akan kembali berdiri koko (red/II)
(Agus)













