- Penulis

Selasa, 10 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BREBES,JAWA TENGAH,GarudaXpose.com-Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, kini menjadi potret pilu sebuah komunitas yang terpaksa berjuang melawan kekuatan alam yang tak terduga. Bencana tanah bergerak yang melanda wilayah ini sejak 29 Januari 2026, telah mencapai titik kritis pada Minggu (8/2/2026), meninggalkan jejak kerusakan masif berupa retakan menganga di permukaan tanah dan reruntuhan bangunan, memaksa ratusan keluarga mengungsikan diri dalam kondisi serba terbatas. Keadaan ini telah memunculkan ketakutan mendalam, bukan hanya akan hilangnya tempat tinggal, tetapi juga ancaman akan bahaya longsor susulan yang bisa terjadi kapan saja, membayangi setiap langkah warga yang mencoba bertahan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Brebes, Wibowo, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya saat memaparkan data terkini. Tercatat 124 unit rumah warga, didominasi oleh konstruksi semi permanen, telah rusak parah. Ini berarti 413 jiwa dari 148 Kepala Keluarga (KK) kini kehilangan tempat bernaung. “Pergerakan tanah yang terjadi di Dukuh Bojongsari RT 03 dan 04 di RW 03 semakin bertambah parah, dengan arah longsoran ke barat daya dengan kemiringan kurang lebih 45°,” jelas Wibowo pada Selasa (10/2/2026), sembari menyoroti bahwa pergerakan tanah pada Minggu lalu bahkan telah mencapai bibir aliran sungai Kali Keruh. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar akan potensi longsor yang lebih luas dan masif, mengingat struktur geologi daerah tersebut yang memang rentan dan kondisi tanah yang terus menunjukkan ketidakstabilan.

Wibowo menduga kuat, fenomena alam ini dipicu oleh intensitas hujan ekstrem yang terus-menerus mengguyur wilayah Brebes selatan selama beberapa waktu terakhir. Curah hujan yang tinggi meresap ke dalam lapisan tanah, meningkatkan kejenuhan dan tekanan air pori, yang pada akhirnya mengurangi kohesi tanah dan memicu pergeseran massa tanah secara progresif. Ini adalah peringatan keras akan dampak perubahan iklim dan pentingnya mitigasi bencana di daerah rawan, sebuah pelajaran pahit yang kini harus ditelan oleh warga Bojongsari. Para ahli geologi dan hidrologi lokal juga telah dimintai pendapat, dan mereka sepakat bahwa kombinasi antara lereng yang curam, jenis tanah yang mudah jenuh air, dan curah hujan di atas normal adalah resep sempurna untuk bencana semacam ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dampak bencana ini jauh melampaui kerusakan fisik semata. Kehidupan sosial dan infrastruktur dasar masyarakat Bojongsari turut lumpuh. Akses vital terputus setelah jalan desa sepanjang sekitar 700 meter amblas, mengisolasi sebagian warga dan menyulitkan distribusi bantuan maupun evakuasi. Kondisi jalan yang terbelah dan bergelombang kini menjadi saksi bisu kekuatan alam yang tak terhentikan. Lebih memprihatinkan lagi, dua tempat ibadah yang menjadi denyut nadi spiritual komunitas, serta fasilitas pendidikan seperti sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) yang merupakan harapan masa depan anak-anak, semuanya tak luput dari kerusakan. Kondisi ini secara langsung mengganggu proses belajar-mengajar dan aktivitas keagamaan, memperdalam luka psikologis dan sosial di tengah masyarakat. Trauma mendalam kini menghantui anak-anak yang menyaksikan rumah dan sekolah mereka hancur, membutuhkan penanganan psikososial yang serius dan berkelanjutan.

Di tengah situasi darurat ini, upaya penyelamatan dan evakuasi terus dilakukan. Pembongkaran rumah-rumah yang kondisinya kritis dan membahayakan sedang gencar dilaksanakan, dengan prioritas utama mengamankan barang-barang berharga dan material yang masih bisa dimanfaatkan. Warga bergotong royong, bahu-membahu, mencoba menyelamatkan apa yang tersisa dari harta benda mereka sebelum benar-benar ditelan bumi. Kepala Desa Sridadi, Sudiryo, dengan nada cemas mengkonfirmasi bahwa lebih dari seratus warganya di Bojongsari telah meninggalkan rumah mereka dan kini menempati tenda-tenda darurat yang didirikan seadanya. “Kondisi pergerakan tanah makin parah, warga mengungsi ke tenda,” ungkap Sudiryo, menyoroti betapa terbatasnya pilihan yang dimiliki oleh warganya yang terdampak. Suasana di tenda-tenda pengungsian jauh dari kata nyaman, dengan tantangan sanitasi, ketersediaan air bersih, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya yang memerlukan perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Meskipun demikian, harapan mulai muncul dengan adanya bantuan tanggap darurat. Dinas Sosial (Dinsos) Brebes telah menyalurkan bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi para pengungsi. Berbagai organisasi kemanusiaan dan relawan juga mulai berdatangan, memberikan dukungan moral dan logistik. Namun, ini hanyalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang. Tantangan yang lebih besar adalah mencari solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Pihak desa telah berulang kali melaporkan situasi genting ini kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) sejak awal kejadian, mengutarakan harapan besar akan respons cepat dan komprehensif. Desakan ini menjadi semakin kuat setelah upaya relokasi awal ke area tanah hutan ternyata tidak menjamin keamanan, karena daerah tersebut pun menunjukkan gejala pergerakan tanah serupa. Hal ini menggarisbawahi kompleksitas masalah dan kebutuhan akan kajian geologis yang mendalam serta perencanaan tata ruang yang matang sebelum penentuan lokasi permukiman baru, agar tidak terjadi pengulangan bencana yang sama.

Dalam sebuah perkembangan krusial yang menunjukkan adanya sinergi antara masyarakat dan pemerintah, Korcam Covir Sirampog, Mas Royhani, tampil sebagai representasi suara warga Dukuh Bojongsari. Ia telah berhasil menjalin komunikasi langsung dengan Wakil Bupati Brebes dan perwakilan Dewan Partai Gerindra Dapil 2. Dalam pertemuan yang penuh haru tersebut, Mas Royhani dengan lugas memaparkan kondisi pascabencana yang memilukan, mendesak Pemda Brebes untuk tidak lagi menunda, melainkan segera turun ke lapangan dengan program bantuan konkret dan upaya pemulihan yang menyeluruh. Ia menegaskan pentingnya tidak hanya bantuan darurat, tetapi juga rencana jangka panjang untuk relokasi permanen dan rehabilitasi bagi warga terdampak.

Pertemuan ini diharapkan menjadi titik tolak bagi percepatan penanganan bencana. Harapan besar kini digantungkan pada pemerintah daerah agar dapat segera merumuskan dan mengimplementasikan solusi jangka panjang yang berkelanjutan, memastikan ribuan jiwa yang terdampak dapat kembali hidup dengan aman dan bermartabat. Tanpa intervensi serius dan komitmen yang kuat, Dukuh Bojongsari terancam menjadi permukiman mati, dan sejarah kelam bencana ini akan terus membayangi warga yang terpaksa hidup dalam ketidakpastian. Masa depan ribuan warga Brebes kini bergantung pada seberapa cepat dan efektif pemerintah merespons panggilan darurat ini (red/II)

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Krisis Kemanusiaan di Brebes: Tanah Bergerak Luluhkan Sridadi, Warga Dievakuasi Cepat
Brebes Selatan Darurat Tanah Bergerak: Ratusan Rumah Hancur, Ribuan Jiwa Terancam Longsor Susulan!
Aktivis Lingkungan Tegas Minta Menteri LH Pidanakan Pemilik Gudang Kimia Pencemar Cisadane
Hari Pers Nasional dalam Bingkai Konstitusi
Kabel PLN Tersangkut Truk Trailer Lewat, Rumah Warga Ketarik Hingga mengalami Kerusakan Fatal
Apa Tidak Bahaya?: Tanggul di Kamar Kajang – Sumberwuluh di Tambang
Seorang Pelajar MTsN 1 Lumajang menjadi Korban Peluru Nyasar
Tanggapan Bupati Dinilai Belum Memuaskan, Warga Desak Dokumen Segera Ditindaklanjuti

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 16:31 WIB

Krisis Kemanusiaan di Brebes: Tanah Bergerak Luluhkan Sridadi, Warga Dievakuasi Cepat

Selasa, 10 Februari 2026 - 12:09 WIB

Selasa, 10 Februari 2026 - 03:41 WIB

Aktivis Lingkungan Tegas Minta Menteri LH Pidanakan Pemilik Gudang Kimia Pencemar Cisadane

Selasa, 10 Februari 2026 - 01:37 WIB

Hari Pers Nasional dalam Bingkai Konstitusi

Sabtu, 7 Februari 2026 - 10:00 WIB

Kabel PLN Tersangkut Truk Trailer Lewat, Rumah Warga Ketarik Hingga mengalami Kerusakan Fatal

Berita Terbaru