Perut Kosong Melawan Pidato Kenyang

- Penulis

Minggu, 18 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: H.Syahrir Nasution S.E, M.M, Gelar Sutan Kumala Bulan
Garudaexpose.com l Medan (Sumut)—-
Di republik ini, pidato makin gemuk justru ketika perut rakyat kian kerempeng. Tahun berganti ke 2026, tetapi narasi kekuasaan tetap sama: sabar, percaya, dan tunggu. Kata-kata itu diulang seperti mantra, seolah rakyat hidup dari resonansi suara, bukan dari nasi di piring.
Rezim hari ini gemar berbicara tentang pengorbanan. Namun yang diminta berkorban selalu rakyat, bukan elite. Mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan menyampaikan pidato dengan perut kenyang, sementara jutaan warga mendengarkannya dalam keadaan lapar. Di titik ini, pidato berubah dari alat kepemimpinan menjadi penghinaan yang halus.
Klaim keberpihakan pada rakyat terdengar heroik. Tetapi keberpihakan sejati tidak diukur dari nada suara atau tepuk tangan di ruang sidang. Ukurannya sederhana: apakah dapur rakyat mengepul atau tidak. Jika tidak, maka semua jargon kerakyatan hanyalah kosmetik politik—indah di kamera, busuk di kenyataan.
Yang lebih menyakitkan, kelaparan justru bersanding dengan kerakusan. Di tengah rakyat yang diminta bersabar, praktik manipulasi dan penguasaan sumber daya terus terjadi.
Hak orang miskin dikunyah oleh mereka yang sudah kenyang. Inilah wajah ketidakadilan paling telanjang: yang lapar diminta sabar, yang rakus dibiarkan berpesta.
Perut kosong tidak bisa diajak kompromi. Ia tidak mengenal pencitraan. Ia tidak tunduk pada narasi optimisme palsu. Ketika kekuasaan gagal membaca suara perut rakyat, maka jarak antara negara dan warganya berubah menjadi jurang berbahaya—sunyi, dalam, dan mematikan.
Sejarah mencatat, rezim tidak pernah tumbang karena kritik tajam, melainkan karena mengabaikan lapar. Ketika pidato lebih keras daripada empati, dan janji lebih cepat daripada realisasi, maka kejujuran terakhir tinggal satu: perut kosong rakyat yang bersuara tanpa mikrofon.
Jika kekuasaan masih ingin diselamatkan, berhentilah berpidato tentang rakyat. Mulailah bekerja untuk mereka. Sebab di negeri ini, perut kosong selalu menjadi oposisi paling jujur.
(M.SN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penyegaran Organisasi, Sejumlah Pejabat Polresta Banyuwangi Berganti Posisi
Peletakan Batu Pertama Rumah Qur’an Raudhatul Jannah, PAC Pemuda Pancasila SU II Tegaskan Komitmen Sosial
Jajaran Pemasyarakatan Sumatera Selatan Laksanakan Penanaman Pohon di Lapas Pagar Alam
Ketika Imam Lupa Rakaat: Begini Tata Cara dan Sikap Makmum Menurut Fikih Syafi‘i
Ancaman Kerasnya Hati: Kerugian Bagi Jiwa yang Enggan Menangis Karena Allah
CACA Sumsel Satukan Gagasan Cegah Karhutla: “Bersinergi, Selamatkan Hutan dan Masa Depan”
Transformasi Pelayanan RSUD Blambangan: Dari Antrean Panjang dan Berkas Kertas, Kini Lebih Cepat Berbasis Online
Kapolsek Tanggul AKP Fatur Rahman Pimpin Langsung Pengamanan Lomba Kerapan Sapi di Tanggul Wetan

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 10:45 WIB

Penyegaran Organisasi, Sejumlah Pejabat Polresta Banyuwangi Berganti Posisi

Minggu, 13 September 2026 - 04:49 WIB

Peletakan Batu Pertama Rumah Qur’an Raudhatul Jannah, PAC Pemuda Pancasila SU II Tegaskan Komitmen Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 14:29 WIB

Jajaran Pemasyarakatan Sumatera Selatan Laksanakan Penanaman Pohon di Lapas Pagar Alam

Sabtu, 12 September 2026 - 11:48 WIB

Ketika Imam Lupa Rakaat: Begini Tata Cara dan Sikap Makmum Menurut Fikih Syafi‘i

Sabtu, 12 September 2026 - 11:27 WIB

Ancaman Kerasnya Hati: Kerugian Bagi Jiwa yang Enggan Menangis Karena Allah

Berita Terbaru