Garudaexpose.com | Mandailing Natal — Lingga Bayu kini seperti wilayah tanpa penjaga. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama beberapa hari terakhir memicu banjir dan longsor di berbagai titik, membuat seluruh akses transportasi lumpuh total. Jalan-jalan tertutup lumpur, batu, dan luapan air bah, menyisakan wilayah ini benar-benar terisolasi.
Kondisi semakin mencekam ketika PLN padam total, menenggelamkan ribuan warga dalam gelap gulita. Jaringan komunikasi ikut terputus: tidak ada telepon, tidak ada internet, tidak ada cara bagi warga untuk meminta pertolongan. Yang tersisa hanya kecemasan, doa, dan suara derasnya hujan yang terus mengguyur tanpa ampun.
“Lengkap sudah penderitaan kami,” keluh seorang warga yang terjebak di tengah isolasi.
Anak-anak menangis ketakutan, para lansia terperangkap di rumah masing-masing, sementara banyak kepala keluarga tak mampu keluar mencari bantuan karena akses benar-benar tertutup.ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi ini bukan lagi sekadar peristiwa alam tahunan. Ini alarm keras betapa rapuhnya infrastruktur dan mitigasi bencana di Lingga Bayu. Tahun demi tahun bencana serupa terus berulang, namun solusi jangka panjang tak kunjung terlihat.
Warga kini menunggu langkah nyata. Pemerintah daerah dan instansi terkait didesak turun langsung ke lapangan, bukan sekadar mengeluarkan imbauan. Mereka harus memastikan jalan kembali terbuka, listrik dipulihkan, dan jaringan komunikasi dihidupkan agar bantuan dapat mengalir.
Hingga laporan ini diturunkan, kondisi di Lingga Bayu masih sangat kritis. Ribuan warga menunggu kehadiran negara dalam gelap—gelap tanpa cahaya, dan gelap tanpa kepastian.
Pernyataan ini disampaikan oleh seorang warga Lingga Bayu, Madi Harapah, kepada awak media pada Kamis (27/11/2025) sore sekitar pukul 16.25 WIB, di salah satu kede di Desa Lobung, Kecamatan Lingga Bayu.
Penulis : Muhammad Sudirmin Nasution
Editor : Saad Siregar














