Garudaxpose.com | Tangerang – Kepala keamanan Sekolah Penabur , Jamhuri, memberikan penjelasan terperinci mengenai dugaan penganiayaan terhadap seorang Asisten Rumah Tangga (ART) berinisial YA,yang diduga dilakukan oleh tiga bersaudara di area sekitar sekolah. Keterangan ini disampaikan kepada awak media pada Jumat (12/12/2025) seusai proses klarifikasi internal.
Dalam penuturannya, Jamhuri menggarisbawahi bahwa insiden dugaan pemukulan tersebut terjadi di luar jangkauan pengawasan dan pantauan keamanan sekolah. Ia menegaskan bahwa fokus utama petugas keamanan saat itu adalah mengawal kepulangan siswa serta memastikan arus penyeberangan berlangsung aman.
Detik-Detik Kejadian terjadi yang diawali Teriakan Memicu Respons Security
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut rekaman audio dan hasil wawancara, petugas keamanan merespons ketika terdengar teriakan minta tolong di sekitar area sekolah.
“Ada orang teriak-teriak. Wajar dong kita sebagai sekuriti untuk menghampiri. Untuk melihat dan memastikan ada apa ini, Mbak?” ujar Jamhuri.
Ia menjelaskan bahwa pihaknya kemudian mendapati ART tersebut berada dalam keadaan terluka. “Saya lihat itu sudah berdarah. Kalau pemukulannya, kita tidak tahu. Itu di luar penglihatan saya.”
Berdasarkan pengamatan Jamhuri, ART tersebut dibawa ke sebuah mobil jemputan oleh pihak keluarga, termasuk seorang perempuan yang disebut sebagai ibu dari JT (anak majikan).
“JT diambil. Siapa yang mengambil? Orang tuanya. Yang perempuan, dari pihak keluarga,” jelasnya.
Jamhuri menegaskan bahwa fase penjemputan tersebut merupakan indikasi bahwa situasi di area sekolah telah dianggap aman oleh pihak keluarga:
“Kalau yang sudah dijemput berarti kan sudah aman.”
Selain pengamatan pribadi, Jamhuri juga menyampaikan informasi yang diterimanya dari seorang staf internal sekolah bernama DC. Menurut keterangan itu, JT sempat bersembunyi di dalam kelas atau di ruang kepala sekolah, diduga untuk diamankan sebelum dijemput oleh keluarganya.
“Infonya dari Pak AL, mengetahui mamanya hendak menjemput, JT sempat sembunyi di ruangan kelas atau ruangan kepala sekolah karena diamankan,” ucapnya.
Namun, Jamhuri menekankan bahwa ia tidak menjadi saksi langsung dan hanya menyampaikan informasi turunan:
“Saya pribadi minta jadi saksi, tapi saya bilang, ‘Saya tidak melihat loh ya, Pak.’”
Saat proses klarifikasi, awak media menanyakan ketersediaan rekaman CCTV untuk memastikan kronologi kejadian. Jamhuri menyatakan bahwa akses terhadap CCTV memerlukan izin dari pihak manajemen sekolah dan akan ditindaklanjuti.
“Coba dipelajari, Pak. Karena ada masalah, kita izin juga ke sekolah kepada manajemen,” ujarnya.
Tim media menekankan pentingnya rekaman CCTV sebagai bukti material:
“Semua bukti itu kan ada di CCTV. Aktivitas memang ramai saat pulang sekolah, tapi minimal perlu dilihat ulang,” kata tim media dalam diskusi tersebut.
Jamhuri membenarkan bahwa temuan dan pemantauan pihak keamanan terbatas dan insiden inti terjadi di luar kewenangan langsung mereka.
“Artinya, ini di luar cakupan kewenangan kami sebagai sekuriti,” tegasnya.
Saat dimintai keterangan tambahan, Jamhuri menegaskan bahwa tidak ada informasi lain yang dapat ia sampaikan pada tahap ini.
“Untuk sementara ini tidak ada, Pak,” tutupnya
(Nix)













