Garudaxpose.com | Probolinggo – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo menggelar upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 tahun 2026 dengan nuansa yang berbeda. Bertempat di Gerbang Wisata Sukapura (GWS), upacara ini mengusung tema besar “Tengger in Harmony: Gerbang Moderasi” pada Sabtu (3/1/2026).
Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris, M.Kes. (Gus Haris), hadir langsung dan bertindak sebagai Inspektur Upacara. Beliau didampingi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) H. Ugas Irwanto, S.Sos., M.Si., DPRD, Kepala BPN, Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo, serta unsur Forkopinca Kecamatan Sukapura.
Nuansa moderasi beragama tampak kental dengan hadirnya para Dukun dan Sesepuh adat Tengger, serta dari jajaran internal Kemenag, hadir Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, Dr. Samsur, didampingi Kasubbag TU Moh. Sa’dun, M.Pd.I, para Kasi, Penyelenggara, Pengawas PAI dan Madrasah, 24 Kepala KUA, Penghulu, Penyuluh, serta ribuan Guru PAI (GPAI) baik dari sekolah maupun madrasah se-Kabupaten Probolinggo yang memadati area GWS.
Pesan Menteri Agama: Umat Rukun, Indonesia Maju
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam amanatnya, Gus Haris membacakan sambutan tertulis Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar. Menag menegaskan bahwa HAB ke-80 bukan sekadar refleksi perjalanan lembaga, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen Kemenag dalam merawat kerukunan.
Dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju,” Menag menekankan tiga poin utama:
1. Sinergi dalam Perbedaan: Kerukunan adalah energi kebangsaan untuk mendorong kemajuan bangsa.
2. Transformasi Layanan: Penguatan pendidikan keagamaan, pemberdayaan ekonomi umat, dan layanan digital.
3. Tantangan Zaman: ASN Kemenag diminta siap menghadapi era kecerdasan buatan (AI) dengan tetap menjunjung nilai ketuhanan, integritas, dan etika.
Komitmen Gus Haris terhadap Toleransi
Senada dengan pesan Menteri Agama, Gus Haris dalam penyampaiannya menambahkan bahwa semangat toleransi bukanlah hal baru bagi dirinya.
Jauh sebelum menjabat sebagai Bupati, Gus Haris dikenal aktif menjalin silaturahmi dengan tokoh-tokoh adat dan para dukun Suku Tengger.
“Kami sudah lama menjalankan nilai-nilai toleransi ini, terutama di kawasan Gunung Bromo. Silaturahmi dan kehadiran dalam kegiatan umat Hindu di Suku Tengger adalah bagian dari upaya kita menjaga keharmonisan yang sudah mengakar di Probolinggo,” ujar Gus Haris.
Acara yang berlangsung khidmat di kaki Gunung Bromo ini menjadi simbol nyata bahwa moderasi beragama di Kabupaten Probolinggo bukan sekadar slogan, melainkan praktik kehidupan sehari-hari yang terus dijaga. Red*













