GarudaXpose.com | Kabupaten Tangerang – Di bawah langit pagi yang teduh, langkah Acu Nuraip terasa lebih ringan dari biasanya. Hari itu, bukan sekadar Selasa biasa.
Hari itu adalah hari ketika mimpi yang ia rawat dengan keringat dan doa akhirnya mekar sepenuhnya.
Acu Nuraip, lelaki sederhana dari Kampung Waryudoyong, Desa Jayanti, yang tiap harinya menyalakan bara kecil penggorengan di depan rumah dekat minimarket,
kini berdiri tegak menyaksikan putri tercintanya mengenakan toga simbol kemenangan atas perjuangan panjang yang tak pernah ia keluhkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sorot mata yang berkilau, tersimpan ribuan cerita:
tentang fajar yang disambut dengan harapan,
malam yang dilewati dengan doa,
dan langkah yang tak pernah berhenti meski lelah sering mengetuk.
Ketika nama putrinya dipanggil, hatinya bergetar.
Di tempat itu, seorang ayah sederhana akhirnya menyaksikan buah dari keteguhan yang ia peluk bertahun-tahun.
Gelar S1 yang kini disandang sang putri bukan hanya milik anaknya tetapi juga miliknya, hasil dari cinta yang tak pernah surut.
Acu Nuraip mungkin hanya berjualan gorengan,
tetapi dari kedua tangannya yang akrab dengan panas minyak,
ia membangun masa depan seorang sarjana.
Dan hari itu, dunia seakan berhenti sejenak, memberi ruang bagi seorang ayah
untuk merayakan kemenangan terbesarnya:
melihat putrinya berdiri dengan bangga di panggung wisuda.
(Spi)













