Buku Seabad Relokasi Batur Jadi Ruang Pencatatan Ingatan Kolektif

- Penulis

Minggu, 2 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Garudaxpose.com | Bali – Buku Seabad Relokasi Batur (Mahima Institute Indonesia, 2025) didiskusikan dalam acara Diskusi Buku Program Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 di Taman Budaya Bali, Denpasar, 24 Juli 2026. Diskusi berlangsung hangat, ditandai dengan respons peserta yang begitu tinggi terhadap diskusi.

Pembedah buku, Heri Purwanto, S.S., M.Ag Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Menurutnya, buku yang disusun secara swadaya oleh komunitas Lingkar Studi Batur memberi gambaran tentang bagaimana upaya masyarakat Batur, khususnya kalangan muda merawat ingatan kolektif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Buku ini mengajak kita menyelami lorong waktu sejarah dengan memahami kebudayaan Batur dari masa lalu, membaca keadaan saat ini, dan berefleksi untuk masa depan. Buku ini adalah sebuah wadah tentang bagaimana ingatan kolektif Batur dijaga, khususnya berkaitan dengan peristiwa sejarah Rarud Batur, yakni pengungsian akibat letusan Gunung Batur tahun 1926. Buku ini bisa jadi catatan historiografi yang penting untuk memahami peristiwa itu,” katanya.

Menurutnya ada tiga hal yang ingin disyaratkan dalam buku tersebut, yang berkaitan dengan resiliensi masyarakat Batur terhadap kebertahan, adaptasi serta kekhawatiran.

“Kebertahan itu terkait dari bagaimana masyarakat Batur bertahan setelah relokasi. Adaptasi memuat tentang bagaimana kehidupan sosial budaya kemudian diadaptasi oleh masyarakat yang hidup di ruang baru. Sementara itu, kekhawatiran terhadap Batur ini tercermin pada tulisan – tulisan yang menyuarakan masa depan Batur seperti ancaman degradasi lingkungan, potensi pemanfaatan ruang, hilangnya nilai-nilai dan warisan budaya. Dalam penyajiam tema – tema ini, editor sangat baik meramunya, sehingga wacana dari para penulis yang berasal dari kalangan lokal, nasional dan internasional itu bisa terhubung,” katanya.

Namun, ia mengkritisi sejumlah hal yang belum tampak pada buku tersebut. Salah satunya berkaitan dengan aspek teologi Batur. “Buku ini tak menyentuh aspek teologis, padahal kita tahu masyarakat Batur dengan agama itu sangat erat. Mereka percaya atas Gunung Batur. Gunung Batur tidak bisa dipisahkan, Dewi Danuh, hubungan masyrakat dan danau. Ini yang belum tampak pada buku ini,” kata dia.

Menurutnya ke depan perlu ada kerja akademik yang mengarah pada studi teologi Batur. Batur dengan teologi gunung dan kehadiran dewa – dewa lokal diyakini terkait dengan konsep agama masa lalu Nusantara, misalnya konsep Parwata Rajadewa.

“Teologi Nusantara dahulu memang mengenal istilah dewa – dewa lokal baik sebagai Grama Dewata yang melingkupi dewa tingkat desa, Kula Dewata yang berkaitan dengan garis keturunan, serta Parwata Rajadewa yang berkaitan dengan pemujaan terhadap gunung. Contohnya di Jawa, misalnya di Gunung Lawu dikenal sebagai Hyang Girinata atau yang kini disebut Hyang Lawu atau Sunan Lawu. Di Gunung Kelud ada Hyang Acalapati, yang terurai dalam Negarakretagama. Di Gunung Penanggungan atau arkaisnya disebut Pawitra dikenal dewa Sri Parwatarajadewa. Saya kira di Batur pun kemudian muncul, misalnya yang juga ditulis dalam buku sebagai Ida Ratu Madue Gumi dan Dewi Danuh,” katanya.

Penyunting buku, Jero Penyarikan Duuran Batur (I K. Eriadi Ariana) menjelaskan, buku ini sebagai karya bersama yang menghimpun 32 tulisan. Ia menjelaskan buku ini memang diupayakan sebagai ruang menjaga ingatan kolektif. “Awalnya memang diupayakan sebagai ruang mencatat Batur, dengan berefleksi pada peristiwa 100 tahun Rarud Batur. Setelah tulisan terkumpul, kami pun kaget ketika banyak data yang muncul. Data – data yang dikumpulkan oleh penulis yang tidak saja dari Batur, tetapi juga beberapa desa yang terkait Batur, para intelektual nasional, hingga peneliti dari luar negeri. Semoga kehadiran buku ini dapat memberikan inspirasi untuk kajian Batur selanjutnya,” katanya. @ (suriasih)

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wujudkan Pelayanan Kesehatan Berlandaskan Kasih Sayang, Pemkab Bangli Hadirkan Pengobatan Gratis Di Empat Kecamatan
Bakti Pamlaspas Cihna Batur Let, Gubernur Bali Tegaskan Hentikan Komersialisasi Gunung Batur
Seminar Nasional Seratus Tahun Rarud Batur Hasilkan Rekomendasi Strategis Arah Baru Pengelolaan Kawasan Batur
Forum Silaturahmi LBH GADJA MADHA Indonesia di Muncar Perkuat Konsolidasi Organisasi dan Bagikan KTA Anggota
Gerakan Langit Biru Menjelang HUT Ke-25, Demokrat Bali Melaksanakan Bersih Sampah Serta Menebar Benih Ikan Di Danau Beratan Dan Tamblingan 
​Prioritas Yang Dipertanyakan: Bobby Nasution Berkantor di Nias Saat Jalur Ekonomi Pantai Barat Madina Lumpuh Hampir Setahun
Jalan Rusak Madina vs Kantor Sementara Nias: Ujian Efisiensi Prabowo dan Etika Kepemimpinan Bobby Nasution
Laba Nasional Melonjak 84,4 Persen, Pegadaian Kanwil III Sumbagsel Ikut Catat Pertumbuhan Bisnis Signifikan

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 14:15 WIB

Wujudkan Pelayanan Kesehatan Berlandaskan Kasih Sayang, Pemkab Bangli Hadirkan Pengobatan Gratis Di Empat Kecamatan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Buku Seabad Relokasi Batur Jadi Ruang Pencatatan Ingatan Kolektif

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Bakti Pamlaspas Cihna Batur Let, Gubernur Bali Tegaskan Hentikan Komersialisasi Gunung Batur

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:13 WIB

Forum Silaturahmi LBH GADJA MADHA Indonesia di Muncar Perkuat Konsolidasi Organisasi dan Bagikan KTA Anggota

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Gerakan Langit Biru Menjelang HUT Ke-25, Demokrat Bali Melaksanakan Bersih Sampah Serta Menebar Benih Ikan Di Danau Beratan Dan Tamblingan 

Berita Terbaru

Uncategorized

Buku Seabad Relokasi Batur Jadi Ruang Pencatatan Ingatan Kolektif

Minggu, 2 Agu 2026 - 13:13 WIB