Nobar Film Cyberbullying Oleh Siswa di Sekolah – Sekolah Lumajang, Edukasi Digital Atau Bisnis

- Penulis

Kamis, 9 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com | Lumajang – Nobar film Cyberbullying oleh siswa di sekolah-sekolah Lumajang menuai banyak kritikan mulai dari pemerhati pendidikan, komunitas peduli pendidikan dan para orang tua siswa.

Meski hanya imbauan dari pemerintah, siswa justru “diwajibkan” beli tiket Rp. 25 ribu. Banyak yang mengatakan ini edukasi digital atau bisnis terselubung?.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di atas kertas, kegiatan nonton bareng (nobar) film bertema cyberbullying oleh siswa-siswi, khususnya SMP, di Lumajang tampak seperti langkah yang cerdas, edukatif, kontekstual, dan relevan dengan zaman.
Namun, di balik layar, publik mencium aroma lain, yaitu bau komersialisasi pendidikan yang semakin kuat.

“Bagaimana tidak?, Siswa “dianjurkan” menonton, tetapi faktanya terkesan diwajibkan. Tiket seharga Rp25 ribu dijual dengan alasan agar siswa dapat membuat sinopsis film sebagai tugas sekolah.
Pertanyaannya, sejak kapan tugas belajar harus dibayar dengan tiket masuk bioskop, ” ujar Dodik Suprayitno ketua LP-KPK Lumajang

Lebih lanjut ketua LP-KPK mengatakan, padahal dari pihak Kominfo, Kemen PPPA, hingga KPAI, tidak ada satu pun regulasi yang mewajibkan nobar ini. Pemerintah hanya memberi imbauan, bukan instruksi wajib, apalagi berbasis transaksi.

“Namun imbauan yang seharusnya bersifat sukarela ini mendadak berubah menjadi semacam “kewajiban” di lapangan,” tegas ketua LP-KPK, Kamis (9/10/2025).

Beberapa wali murid dengan nada getir menuturkan bahwa anak-anak mereka takut tidak ikut, khawatir nilainya dikurangi.

> “Kalau tidak nonton, katanya tidak bisa bikin tugas sinopsis. Jadi mau tak mau beli tiket,” ujar orang tua siswa pada awak media ini.

Kegiatan yang mengatasnamakan edukasi justru menciptakan tekanan psikologis dan ekonomi bagi siswa dan keluarga. Ironisnya, semua ini dibungkus dengan narasi moral tentang “kesadaran digital” dan “anti-bullying”.

Jika benar tujuan utama adalah membangun kesadaran tentang bahaya perundungan digital, bukankah sekolah memiliki banyak cara yang lebih bermartabat?

Guru bisa memutar film edukasi gratis dari kanal pemerintah, menggelar diskusi kelas, atau mengundang narasumber literasi digital. Tak perlu tiket, tak perlu EO.

Reporter : bas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sembunyikan Ratusan Obat Keras dalam Tong Sampah, Seorang Pria Diamankan Polsek Cisoka Polresta Tangerang
Mau Lanjut S2? Simak Perbandingan Biaya Tiga Perguruan Tinggi di Probolinggo
Bupati Ipuk Dorong HIPMI Banyuwangi Jadi Lokomotif Perekonomian Daerah
Hadiri Akad Massal 62.000 KPR Rumah Subsidi, Menteri Nusron: Legalitas Tanah Beri Kepastian bagi Masyarakat
Menteri ATR/Kepala BPN Tetapkan Standar Waktu Layanan untuk Pengukuran Tanah dan Peralihan Hak
Swadaya Warga Sikancil Cor Jalan Kabupaten, Tamparan Keras Untuk Pemkab Brebes
Bupati Ipuk: Kompetisi Ajang Asah Percaya Diri Siswa
Targetkan Emas Asian Games 2026, Timnas BMX Indonesia Digembleng di Banyuwangi

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Sembunyikan Ratusan Obat Keras dalam Tong Sampah, Seorang Pria Diamankan Polsek Cisoka Polresta Tangerang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:18 WIB

Mau Lanjut S2? Simak Perbandingan Biaya Tiga Perguruan Tinggi di Probolinggo

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:26 WIB

Bupati Ipuk Dorong HIPMI Banyuwangi Jadi Lokomotif Perekonomian Daerah

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:54 WIB

Hadiri Akad Massal 62.000 KPR Rumah Subsidi, Menteri Nusron: Legalitas Tanah Beri Kepastian bagi Masyarakat

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:50 WIB

Menteri ATR/Kepala BPN Tetapkan Standar Waktu Layanan untuk Pengukuran Tanah dan Peralihan Hak

Berita Terbaru